Senin, 17 Januari 2011

JAMAAH SEBUAH SOLUSI PROBLEMATIKA UMMAT ISLAM


Banyak orang shalih diantara ummat ini, tetapi keshalehannya hanya untuk dirinya sendiri, banyak orang hebat diantara ummat ini, tetapi kehebatannya hanya untuk memuaskan kepentingan-nya masing-masing, banyak orang yang berpotensi diantara ummat ini, tetapi mereka seperti daun-daun yang berhamburan, semuanya berserakan disana- sini dan tidak terhimpun sama sekali.

Islam memberikan solusi untuk menghimpun semua kekuatan itu , yang shalih, yang hebat, yang cerdas , yang berpotensi bertemu padu dengan saudaranya yang shalih pula, yang hebat pula, yang cerdas pula kedalam sebuah wadah yang bernama jamaah.


Jamaah merupakan cara yang paling tepat untuk menyederhanakan perbedaan-perbedaan pada individu tersebut. Didalam jamaah individu-individu yang mempunyai kemiripan disatukan dalam sebuah simpul, maka meskipun banyak simpul, itu jauh lebih baik daripada tidak ada sama sekali, memetakan kekuatan melalui simpul simpul yang ada akan lebih mudah daripada memetakan kekuatan-kekuatan sebagai individu.

Akan tetapi itulah masalahnya, ternyata hal tersebut bukanlah pekerjaan yang mudah, ternyata orang shalih tidak mudah untuk disatukan, orang hebat tidak selalu bersedia untuk bersatu dengan orang hebat lainnya. Mungkin itu sebabnya ada ungkapan dikalangan gangster mafia “ seorang prajurit yang bodoh kadang lebih berguna daripada dua orang jendral yang hebat “ yang jelas nabi ummat ini tidak memaafkan orang yang meninggalkan jamaah hanya karena dia tidak menemukan kecocokan bersama orang lain didalam sebuah jamaah, apapun itu kekeruhan didalam jamaah jauh lebih baik daripada kejernihan tetapi sendirian kata Imam Ali bin Abi Thalib r.a.

Jamaah dan kunci-kuncinya
Orang-orang yang shalih, yang hebat, yang berpotensi diantara kita harus menyadari bahwa tidak banyak yang bisa dia sumbangkan kepada islam kecuali dia mau bekerja didalam dan melalui jamaah. Mereka tidak dapat menolak fakta bahwa tidak ada orang yang dapat mempertahankan hidupnya tanpa bantuan orang lain, bahwa tidak pernah ada orang yang dapat melakukan segalanya atau menjadi segalanya, bahwa kecerdasan individual tidak dapat mengalahkan kecerdasan kolektif. Jadi bekerja atau beramal didalam dan melalui jamaah tidak sekedar fitrah social kita tetapi bagaimana beramal dan pekerjaan itu menjadi lebih efektif, efisien dan produktif.

Ada alasan lain mengapa kita harus berjamaah di hari ini, di zaman ini. Karena hampir semua aktivitas manusia dilakukan dengan berorganisasi baik itu pemerintahan, militer, bisnis, kegiatan social, seni bahkan yang bermaksiat-pun dalam melakukan aktivitasnya dengan berorganisasi yang rapi. Maka tidaklah salah zaman ini dikenal dengan ciri – ciri masyarakat organisasi, masyarakat jaringan, dan inilah “mungkin“ menjadi kata kunci mengapa masyarakat modern hari ini menjadi efektif, efisien dan produktif.

Pilihan untuk bekerja dan beramal islami didalam dan melalui jamaah hanya akan lahir dari pemahaman bahwa keterbatasan-keterbatasan yang ada pada setiap individu sesungguhnya dapat dihilangkan dengan mengisi keterbatasan itu dengan kekuatan atau kelebihan yang ada pada orang lain. Dengan demikian tuntutan beramal islami didalam dan melalui jamaah tidak hanya sekedar menginginkan yang efektif, efisien dan produktif tetapi juga menjadi tuntutan kebutuhan untuk mengatasi serangkaian persoalan-persoalan yang selevel dengan tantangan dan tuntutan zaman dimana kita hidup didalamya.

Kesadaran yang amat penting inipun ternyata belumlah cukup, masih ada persyaratan psikologis lain yang harus kita miliki untuk dapat beramal yang efektif, efisien dan produktif didalam kehidupan berjamaah.

Pertama, kesadaran bahwa kita hanyalah bagian dari fungsi pencapaian tujuan. Sebuah jamaah didirikan untuk mencapai tujuan-tujuan besar, jamaah bekerja dengan sebuah perencanaan dan strategi yang komprehensif dan integral. Didalam strategi besar itu, setiap individu harus ditempatkan sebagai bagian kecil dari keseluruhan elemen yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Jadi sehebat apapun dia, sebesar apapun kontribusinya kepada jamaah, dia tidak boleh merasa lebih besar daripada strategi dimana dia menjadi salah satu bagiannya, jika dia merasa lebih besar dan bisa berbuat apa saja maka strategi besar akan menjadi berantakan.

Kedua, kesiapan menjadi prajurit / tentara yang kreatif. Kita sadari bahwa pusat stabilitas jamaah berada pada kepimpinan ( qiyadah ) yang kuat. Namun seorang pemimpin hanya akan efektif bila mempunyai prajurit – prajurit yang loyalitas dan totalitas. Loyalitas berarti kesetiaan dan ketaatan, totalitas berarti menyerahkan semua yang dimilikinya untuk kepentingan jamaah. Loyalitas dan totalitas adalah inti dari keprajuritan. Jadi begitu kita bergabung kedalam jamaah berarti siap untuk tetap taat dan setia. Akan tetapi karena ruang lingkup amal islami yang begitu luas cakupannya ditambah jamaah masih belum begitu kuat dan solid, maka kita membutuhkan individu-individu yang kreatif, dan sebenarnya kreativitas tidak bertentangan dengan kesetiaan dan ketaatan. Kesetiaan dan ketaatan lahir dari komitmen dan disiplin tinggi, sementara kreativitas lahir dari kecerdasan dan kelincahan serta mobilitas yang tinggi. Maka tidak sepatutnya kita menutup pintu kreativitas bagi anggota jamaah karena kreativitas kadang merupakan output dari serangkaian tindakan didalam menghadapi persoalan-peroalan dilapangan. Jika kesetiaan dan ketaatan berpadu dengan kreativitas maka banyak persoalan jamaah dilapangan yang terselesaikan.

Ketiga , berorientasi pada karya atau amal bukan pada posisi atau structural. Jebakan terbesar dalam sebuah jamaah adalah posisi atau jabatan structural. Jamaah adalah wadah bagi kita untuk beramal, mengeksplorasi potensi untuk berkarya dan beramal. Jabatan /posisi hanyalah alat untuk memudahkan amal/pekerjaan tersebut. Jika orientasi kita adalah karya maka ada atau tidak ada posisi kita tetap akan terus berkarya dan beramal

Keempat , Bekerja sama walaupun berbeda. Perbedaan adalah tabiat kehidupan yang tidak dapat dimatikan oleh jamaah, maka jangan bermimpi jika ada sebuah jamaah tidak ada perbedaan, mengapa ? karena tidak semua anggota jamaah berangkat dari sekolah yang sama, pemikiran yang sama, latar belakang kehidupan yang sama. Yang harus kita lakukan adalah memenej / mengelola perbedaan itu agar menjelma menjadi sebuah potensi yang tidak disangka-sangka karena kadang solusi muncul dari perbedaan-perbedaan itu. Sehingga yang mesti kita tumbuhkan adalah sikap atau kemampuan jiwa serta kelapangan dada untuk tetap bekerja sama ditengah perbedaan-perbedaan tersebut, sekali lagi bahwa kekeruhan didalam berjamaah masih lebih baik daripada kejernihan tetapi sebagai individu.

Kelima, membangun dan mendahulukan semangat untuk berkorban dan menghindari kepentingan dan mencari keuntungan individu. Semangat berkorban harus berangkat dari rasa kecintaan ( mahabbah ) kepada sang kholiq dengan demikian akan timbul rasa ingin melindungi jamaah ini dari rongrongan musuh, sikap melindungi saudara-saudaranya dari ancaman yang mungkin menyertainya. Keinginan untuk memberikan tenaganya, fikirannya, hartanya bahkan nyawanya untuk islam dan perjuangan adalah factor utama dari kecintaan kepada Rabbnya.

Jamaah yang efektif

Mungkin jauh lebih realistis untuk mencari jamaah yang efektif daripada mencari jamaah yang ideal. Jamaah yang efektif adalah jamaah yang bisa mengekskusi program-programnya atau bisa merealisasikan rencana-rencananya, kemampuan mengekskusi program ini akan lahir dari integrasi diantara berbagai unsur; ada sasaran dan target yang jelas, ada strategi yang tepat, ada sarana dan prasarana yang mendukung, ada pelaku/ personal yang mampu dan layak untuk mengerjakan hal itu, dan adanya seperangkat system yang memberikan ruang yang cukup untuk melaksanakan program itu. Dan jamaah akan menjadi efektif apabila memiliki hal-hal berikut ini;

Pertama, ikatan kita adalah aqidah bukan kepentingan. Iman menjadi simpul yang menyatukan kita. Pikiran, hasrat, kemauan kita hendaklah tunduk dan pasrah dihadapan kehendak islam yang dalam hal ini dipresentasikan melalui jamaah. Kepentingan kita adalah tegaknya dien ini bukan tegaknya syaksiyah/pribadi kita.

Kedua, jamaah diposisikan sebagai wasilah bukan tujuan. Maksudnya jamaah sebagai sebuah organisasi yang akan merealisasikan dari tujuan, sehingga jamaah menjadi fleksible terhadap sebuah perubahan baik sistemnya atau program-programnya, karena keduanya sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang melingkupinya, jamaah tidak menjadi kaku oleh masukan-masukan yang positif dan produktif.

Ketiga, system bukan tokoh. Jamaah akan efektif bila orang-orang didalamnya bekerja dengan sebuah system yang jelas, bukan bekerja dengan seseorang yang berfungsi sebagai system. Pemimpin dan prajurit adalah bagian dari strategi, dan system sesuatu yang terpisah. Dengan inilah kita mencegah munculnya “ diktatorisme ” , dimana selera pemimpin menjelma menjadi sebuah system. Sistem yang baik memungkinkan pendelegasian pekerjaan menyebar ke berbagai bidang dan personal, sehingga beban tidak terpusat kepada seseorang, rasio jumlah beban dan pemikulnya yang sedemikian besar dan berat bisa tearatasi oleh system yang baik. (sebuah realita yang nampak dihadapan kita bahwa jumlah pemikul beban hari ini tidak seimbang dengan jumlah beban yang sangat berat dan sangat banyak sehinga muncullah sebuah rasio produktivitas dan waktu bahwa jumlah pekerjaan jauh lebih besar dan lebih banyak dari waktu dan kapasitas yang tersedia). Maka disinilah system yang baik akan mampu mengatasi persoalan-persoalan seperti ini.

Keempat, penumbuhan bukan pemanfaatan. Sebuah jamaah akan menjadi efektif bila didalam proses pembangunan sistem tersebut menempatkan orang-orang yang bergabung kedalam jamaah ini kita perlakukan sebagai pelaku-pelaku yang karenanya perlu ditumbuh kembangkan secara terus menerus untuk pencapaian tujuan besar jamaah. Jadi jamaah menempatkan dirinya sebagai fasilitator bagi perkembangan individu anggotanya, karena masing-masing individu tidak sama didalam menyambut seruan jamaah dan bukan menempatkan mereka ( anggota ) sebagai pembantu-pembantu yang harus dipaksa bekerja keras, diberi beban yang melampaui batas kemampuannya, dan sebagainya

Kelima, mengelola perbedaan ( managemen conflict ) bukan mematikan. Jamaah akan efektif bila perbedaan –perbedaan yang ada dikelola dengan baik, yang mengubah perbedaan menjadi sebuah keberagaman yang produktif dan kreatif

Pembangunan Sumber Daya Manusia

Sungguh, beberapa waktu lalu komunitas kita berada pada masa-masa yang sulit , namun sejarah mencatat bahwa para pahlawan hanya hadir dimasa-masa sulit, tidak ada pahlawan yang hadir dimasa-masa mudah. Sesungguhnya orang-orang yang ditakdirkan lahir dizaman penuh dengan kesulitan adalah orang-orang yang diberi peluang oleh ALLAH Subhana wa Ta’ala untuk mengukir sejarah kepahlawanan . Sejarah tidak pernah memberi catatan semua orang. Sejarah tidak pernah mencatat semua orang yang lahir di bumi. Sejarah hanya akan mencatat orang-orang yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar

Hari ini jamaah menghadapi kondisi yang sangat rumit dan kompleks permasalahannya, yang menyangkut seluruh aspek kehidupan kita dalam berjamaah yakni persoalan transformasi system, pewarisan nilai, manhaj dan program, SDM, sarana dan prasarana dan sebagainya. Ternyata jamaah kita masih lemah, masih kecil, masih bayi tetapi diberi baju oleh musuh kita sebagai raksasa, superbody, kuat dan punya kemampuan yang serba bisa.

Berbagai forum diskusi, perbincangan, sarasehan dan berbagai hal telah kita lakukan dalam rangka mengevaluasi ada apa dengan jamaah ini ? kesimpulannya ternyata sama yakni SDM kita , belum siap menerima beban yang sedemikian besar, tidak seimbang antara rasio structural dan program dengan rasio sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas.

Maka dari sinilah kita memulai, menata system rekrutmen, meningkatkan kuantitas dan kualitas SDM-nya, melakukan pembinaan yang efektif dan refisien, melakukan pengkaderan dengan system dan tata laksana yang sudah diperbaiki dan diperbaharui. Ada dua hal pokok yang harus ada pada setiap individu jika menginginkan untuk bergabung kedalam jamaah ini :

Pertama, personal atau individu yang mempunyai fitrah untuk berubah ( autoplastis ) yaitu mengubah dirinya sesuai dengan tuntutan waktu dan zaman yang dia hidup dizamannya

Kedua, kemampuan dan kemauan untuk mengubah lingkungan, tempat, waktu serta zamannya agar sesuai dengan diri dan jamaahnya ( alloplastis )

Dengan demikian, dia harus memiliki kesiapan untuk berubah dan sekaligus menerima perubahan dan yang kedua memiliki kesiapan dan kemampuan untuk mengubah lingkungannya. Jika kita hanya berada pada komunitas yang bisa menerima perubahan tetapi tidak mampu mengubah, maka kita akan menghabiskan banyak energy dan waktu. Maka dua kualitas itulah yang akan membuat mereka menjadi komunitas kader bukan komunitas massa, komunitas yang mampu mengubah sejarah kehidupan manusia.

Pengkaderan yang efektf dan efisien
Para pendahulu kita, generasi salafus sholeh telah melakukan hal tersebut, bagaimana cara rasulullah mengkader sahabatnya-sahabatnya. Ada seorang penyair yang mengatakan :

“ Engkau lihat sekumpulan manusia, tetapi tidak kau lihat seorangpun, Kadang engkau lihat semangat seribu orang, ada pada seseorang”

Karena itulah nabi Ibrahim disetarakan dengan umat, Inna Ibraahiima kaana ummah , Saad bin Abi Waqqash berkomentar tentang salah seorang komandannya dalam perang Qodisiyah namanya Al qo’qo bin amr : “ sesungguhnya suara Al Qo’qo itu lebih baik dari seribu orang prajurit”. Itu baru suaranya, belum pribadinya, belum kapasitas dan kemampuannya. Tapi itulah seorang pemimpin, yang mampu mengumpulkan kebaikan yang berserakan pada setia individu anggotanya. Manusia hanya punya satu kebaikan tunggal, sedikit yang mempunyai kebaikan berlipat, ada orang pintar tapi tidak dermawan, ada yang loyalitasnya tinggi tapi tidak pintar, ada yang pemberani tapi kurang perhitungan, ada yang cerdas tapi tidak loyal, maka peran dan fungsi pemimpin-lah yang bisa dan mampu melakukan dan mengumpulkan atau mensinergikan potensi potensi yang berserakan tadi, jika itu ada disetiap pos pos strategis, bukan tidak mungkin kekhawatiran musuh-musuh itu menjadi kenyataan.

Jamaah kita adalah jamaah kader, pembinaan kader jelas beda dengan pembinaan massa, maka proses kaderisasi yang berbasis syari’at menjadi sesuatu yang urgen, mendesak dan prioritas. Pembinaan kader tidak cukup dengan taklim, seminar, majlis tausiyah, medan pembinaan kader adalah hidup secara langsung sebagaimana rasulullah membina sahabatnya, Rasulullah merekronstruksi pemikiran mereka, mengisi hatinya dengan iman dan keyakinan, mengisi raganya dengan kekuatan, membentuk tabiat dan karakternya mereka langsung dengan persoalan-persoalan hidup, persolan keamanan, persoalan ekonomi, persoalan politik dan persoalan – persoalan yang lainnya. Manusia ditata ulang atau direkonstruksi ulang sehingga orang ini memiliki performa yang baru, semangat baru dan kekuatan baru atau dalam istilah kita hari ini adalah internal capacity building ( pembangunan kapasitas internal ).

Jadi pengkaderan bagi para pemegang pos pos strategis berbeda dengan pengkaderan massa atau anggota. Pada kisah perang Tabuk adalah contoh riil bagaimana reward dan punishmen kepada kader berbeda dengan massa. Tiga orang sahabat yang ditangguhkan taubatnya karena tidak mengikuti perang yang dikumandangkan rasulullah, padahal itu adalah mobilisasi umum yang rasulullah tidak pernah memberitahukan tentang rencana sebuah peperangan kepada khalayak umum kecuali pada perang Tabuk. Betapa sempit dan sesaknya dada tiga orang sahabat tatkala dihukum oleh Allah SWT melalui lisan Rasul-Nya. Tetapi mereka tetap setia, tetap taat, tetap konsisten walau ujian menerpa bertubi tubi kepada beliau bertiga mulai dari tidak diajak bicara oleh rasulullah dan sahabatnya sampai istrinya sendiri yang disuruh untuk menjauhinya. Dunia begitu sempit dan menyesakkan dada bagi mereka bertiga .

Pengkaderan, tentunya tidak sekedar menerima murid baru melalui rekrutmen bidang-bidang yang berkewajiban untuk itu, tetapi harus melalui proses searcing ( pencarian ), hunting ( perburuan ), mencari orang-orang berbakat kemudian diproses, sebagaimana sabda rasulullah al inssanu ma’addin ( manusia itu seperti tambang ), khiyaruhum fil jahiliyah, khiyaruhum fil islam idza faqihu ( yang terbaik dimasa jahiliyah terbaik juga dalam islam ), ini adalah metode pengkaderan yang pernah dilakukan rasulullah, tentunya sesuai dengan kapasitas dan kapabalitas orangnya.

Pengkaderan membutuhkan keseriusan, ketelatenan, kesungguhan, kesabaran, keuletan dan kastabilan, apalagi yang dibidik seorang tokoh, seorang komandan, seorang yang punya status. Yang tidak boleh dilupakan dalam proses pengkaderan adalah uswah dan qudwah, contoh dan teladan, bimbingan dan pengarahan, adapun jika seluruh usaha sudah maksimal , semuanya kita kembalikan kepada Rabb kita, karena Dia-lah yang Maha Mengerti siapa hamba-Nya yang diberi petunjuk dan siapa hamba-Nya yang disesatkan.

Wallahu a’lam bish showab.

1 komentar:

  1. sukron, atas ulasannya yang begitu dalam dan lugas, semoga menjadikan tasawur, bagi semua orang yang mendabakan akan kehidupan beramal islami yang comprehensive

    BalasHapus