Senin, 10 Januari 2011

AQIDAH JIHADIYAH UMAT ISLAM


Bila berpegang teguh kepada Kitab dan Sunah berfungsi untuk menjaga dienul Islam ini agar tetap berada di atas dasar-dasarnya yang baku yang telah ditetapkan dan menjaganya dari keburukan orang-orang yang menisbatkan diri mereka kepada Islam yang sengaja menjadikan Islam ini sebagai bahan permainan mereka. Maka sesungguhnya jihad berfungsi untuk membela dienul Islam dan pemeluknya dari kekuatan orang-orang yang memeranginya dan orang-orang yang memberontaknya.
Fungsi berpegang teguh kepada Kitab dan Sunah serta fungsi jihad telah terkumpul dalam satu ayat Allah yang berbunyi:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمْ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
"Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Kitab dan Neraca keadilan. Dan Kami telah menciptakan besi yang di dalamnya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia supaya mereka mempergunakan besi itu dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong agamaNya dan Rasul-rasulnya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah itu Maha Kuat lagi Maha Perkasa."(QS. Al Hadid : 25).
Imam Ibnu Taimiyah berkata:

ولن يقوم الدين إلا بالكتاب والميزان والحديد، كتاب يهدي به وحديد ينصره
"Dienul Islam tidak akan pernah tegak kecuali dengan Kitab dan neraca keadilan, serta besi. Kitab itulah yang memberi petunjuk tentang agama dan besi itulah yang menolongnya."(Majmu Fatawa 36/35).
Beliau sering kali, dan bahkan mengulang–ulang pernyataan ini di banyak tempat sebagaimana yang telah saya tunjukkan sebelumnya.
Di sini Insya Allah akan saya sebutkan berbagai rambu-rambu/petunjuk (ma'alim) jihad yang mencakup ;  
  • Dawafu'ul Jihad (pendorong-pendorong jihad) 
  • Ghayatul Jihad (tujuan Jihad) 
  • Ahammiyyahnya (urgensinya) di dalam menegakkan dienul Islam ini.
Sebagian dari ma'alim ini khususnya lima yang pertama, sebenarnya ini merupakan bagian dari aqidah kaum muslimin yang berkaitan dengan ketetapan Allah dan takdirnya.
Karenanya ia merupakan ma'alim yang mana setiap muslim mesti mengerti maknanya agar ia benar – benar mengetahui dasar terjadinya permusuhan terhadap orang – orang kafir, dan tujuan dari Jihad dan perangnya. Kita bisa menyebut ma' alim ini dengan istilah Aqidah Jihadiyah bagi kaum muslimin.
Tentara manapun, sekalipun ia kafir, pasti ia memiliki aqidah qitaliyah (keyakinan yang berhubungan dengan perang yang ia lakukan). Berakar dari aqidah qitaliyah inilah tentara itu memerangi orang lain.
Dari sini jelaskan bahwa perangkat yang berfungsi mengarahkan maknawi (moralitas) tentara merupakan salah satu diantara berbagai perangkat yang pokok pada tiap–tiap tentara sekalipun memiliki nama yang berbeda.
Sisi penting dari perangkat ini adalah untuk menanamkan aqidah qitaliyah ini di dalam jiwa–jiwa para tentara, sampai–sampai tentara–tentara kaum atheis dan kaum sekunler menempatkan sebuah keyakinan yang mendorong semangat/moralitas perang bagi dirinya yang berasal dari bisikan–bisikan syetan. Allah SWT berfirman:
أَ لَمْ تَرَى أَنَّا أَرْسَلْنَا الشَّيَاطِينَ عَلَى الْكَافِرِينَ تَؤُزُّهُمْ أَزًّا
"Tidaklah kamu melihat bahwasannya kami telah mengirim syetan–syetan itu kepada orang–orang kafir mengusung mereka berbuat maksiat dengan sungguh–sungguh." (QS. Maryam : 83 ) Diantara aqidah qitaliyah buatan mereka adalah doktrin bahwa kebangsaan meraka lebih tinggi dari bangsa–bangsa lainnya. Menyebarluaskan prinsip-prinsip hidup mereka dan kebudayaan mereka di tengah–tengah manusia. Atau membela tanah air dan bangsa serta hal-hal lain yang dapat mendorong tentara–tentara mereka untuk berperang.
Keyakinan–keyakinan seperti ini dimiliki oleh tentara manapun baik yang mukmin maupun yang kafir yang tidak lain berfungsi untuk mencurahkan satu tujuan, yaitu agar tentara yang berperang itu percaya bahwa mereka benar-benar diatas suatu kebenaran sedangkan musuh-musuhnya berada di atas kebathilan sehingga wajib untuk diperangi.
Lihatlah apa yang telah diucapkan oleh Umar Bin Khatab ra, kepada Nabi SAW pada perang Hudaibiyah. Beliau (Umar) berkata :
ألسنا على الحق وعدونا على الباطل قال صلى الله عليه وسلم : بلى
"Bukankah kita di atas kebenaran sedangkan musuh kita di atas kebathilan? Nabi SAW menjawab: Benar!" (HR. Bukhari 2731, 2732)
Demikian pula, lihatlah orang–orang kafir yang menyangka dirinya di atas kebenaran. Allah SWT berfirman:
قَالُوا إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ يُرِيدَانِ أَنْ يُخْرِجَاكُمْ مِنْ أَرْضِكُمْ بِسِحْرِهِمَا وَيَذْهَبَا بِطَرِيقَتِكُمْ الْمُثْلَى
"Mereka berkata, "Sesungguhnya dua orang ini benar–benar ahli sihir yang hendak mengusir kalian dari negeri kalian dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kalian yang utama”. (Qs. Thaha : 63). Adapun keyakinan kita (kaum muslimin) tentang jihad, dapat disimpulkan sebagai berikut:
Sesungguhnya Allah SWT telah menghendaki taqdir-Nya dengan membagi makhluk-Nya menjadi dua golongan, yaitu golongan mukmin dan golongan kafir. Lalu Allah SWT menguasakan dua golongan itu sebagiannya terhadap sebagian yang lain. Allah berfirman:
وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا
"Dan telah menjadikan kalian sebagian cobaan bagi sebagian yang lain. Adakah kalian bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat." (Al Furqon : 20) Sehingga Allah SWT menguasakan orang–orang kafir atas orang–orang mukmin dengan perkara yang bersifat takdir, dimana orang–orang kafir itu akan menimpakan fitnah terhadap kaum mukminin dan akan memerangi mereka. Sebaliknya, Allah SWT menguasakan orang–orang mukmin atas orang–orang kafir dengan perkara yang syar'i, dimana orang–orang menyuruh mereka kepada petunjuk ini, agar kalimat Allah berjaya di muka bumi dan dien itu semuanya hanya menjadi milik Allah SWT saja.
Sehingga di bumi ini tidak ada yang berhak untuk diibadahi selain Allah SWT saja, tidak ada satupun sekutu bagiNya.
Karena itu sebenarnya permusuhan yang terjadi antara kaum mukmin melawan kaum kafir semata–mata hanyalah untuk merealisasikan kalimat Laailaahaillallah. Sebagaimana sabda–sabda Rasulullah SAW.:
أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله
"Aku disuruh agar memerangi manusia sampai mereka mau bersaksi bahwa tiada ada Illah (yang diibadahi dengan benar) selain Allah saja dan bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah." (Mutafaq ‘Alaih)

بعثت بين يدي الساعة بالسيف حتى يعبد الله وحده لا شريك له
"Aku diutus di hadapan hari kiamat dengan pedang sehingga hanya Allah sajalah yang diibadahi manusia, tidak ada satupun sekutu bagiNya." (HR Ahmad dari Ibnu Umar).
Jadi jihad itu menjadi wasilah (cara) untuk merealisasikan tauhid.
Beginilah, Allah SWT telah menghendaki agar dunia ini menjadi negeri ibtila' (ujian), di antara semua makhlukNya akan diuji di dalamnya untuk membalas amal–amal mereka nanti di hari kiamat. Allah berfirman:

ذَلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لانتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ
"Demikianlah dan sekiranya Allah menghendaki niscaya Dia benar – benar menghancurkan mereka. Tetapi Dia hendak menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain." (QS. Muhammad : 4).
وَتُنْذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لا رَيْبَ فِيهِ فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَهُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ وَالظَّالِمُونَ مَا لَهُمْ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ
"Dan memberi peringatan kepada kalian tentang hari berkumpulnya semua makhluk (hari kiamat) yang tidak diragukan lagi kedatangannya. Sebagian mereka masuk surga dan sebagian lagi masuk neraka Sa'ir. Dan sekiranya Allah menghendaki, tentulah Dia menjadikan umat yang satu tetapi Allah memasukkan siapa yang dikehendaki ke dalam rahmatNya, sedangkan orang–orang zalim itu mereka tidak memiliki teman dan penolong sama sekali." (QS. Asy Syuro : 7 - 8) 
Baik orang–orang yang mendapatkan rahmatNya maupun orang–orang zalim, mereka semua adalah makhluk Allah dan hambaNya secara suka rela maupun dipaksa. Ubun–ubun mereka ada digenggaman tanganNya! KeputusanNya berlaku adil terhadap mereka! Dan kita beriman kepada ketetapan dan takdirnya serta kebijaksanaanNya. Kita menaati perintahNya menurut syar'i. Allah SWT tidak akan ditanya tentang apa yang Dia lakukan sedangkan mereka (manusia) akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan mereka itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar