Sabtu, 05 Maret 2011

ISTIQOMAH KUNCI KEMENANGAN

Seluruh umat islam pada saat ini telah sepakat akan kefardhu ‘ainan jihad, hanya mereka yang lemah iman dan cacat tashowurnya terhadap islam serta jihad saja yang memungkiri hal ini. Kemudian mereka yang sepakat atas hal ini dihadapkan pada pertanyaan besar; Bagaimana kita mengaplikasikan kefardhu ‘aian jihad pada hari ini?.

Dari pertanyaan ini muncullah dua basis pemikiran dan pergerakan jihad sebagai jawaban atas pertanyaan di atas; Yang pertama adalah mereka yang menempatkan perwujudan jamaah yang kuat sehingga mampu menjadi pondasi kuat perjalanan panjang jihad adalah sebagai jawabannya, karena tanpa adanya jamaah yang kuat maka jihad hanya akan menghasilkan kekalahan-kekalahan yang membuat kaum jihadi semakin terdesak. Yang kedua adalah mereka yang menempatkan ‘amaliyah – ‘amaliyah (semacam bom dan lain-lainnya) sebagai balasan terhadap kaum kafir sebagai jawabannya, ini dikarenakan penindasan yang didapat kaum muslimin harus segera dibalas.

Terlepas dari mana yang paling benar dari dua basis pemikiran dan pergerakan ini, yang pasti mutlak diperlukan keistiqomahan agar ibadah jihad ini benar-benar menghasilkan pahala yang maksimal dari Allah. Ini sebagaimana sabda Rasulullah; “Katakanlah aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqomahlah!”. Dari hadis ini Nampak keistiqomahan adalah kewajiban seorang muslim setelah dia mengimani ajaran islam, istiqomah dalam menjaga keimanan dan konsisten dalam beramal sholeh. Buat apa setelah kita berhasil meraih iman, tapi setelah itu keimanan itu sirna hanya karena kita tidak berhasil menjaga keimanan itu? Bahkan kita harus mendapat predikat kafir setelah iman -na’udzubillahimindzalik-.

Apakah yang di maksud dengan istiqomah? Sehingga sebegitu hebatnya istiqomah dalam perjalanan seorang mu’min. ibnu Rajab al Hanbaly menjelaskan makna istiqomah adalah berjalan di atas di jalan yang lurus, yaitu dienul qoyyim, tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri. Hal itu mencakup pelaksanaan segala bentuk ketaatan yang nampak ataupun tidak, serta meninggalkan segala larangan. Dan wasiat untuk istiqomah ini mencakup segala urusan dien.

Dalam kesempatan lain, ibnu Qayim al Jauziyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan tentang faktor-faktor yang mampu melahirkan istiqomah dalam jiwa seorang mu’min; keenam faktor tersebut adalah; 1, Optimalisasi dalam beramal; pekerjaan apapun akan menghasilkan sesuatu yang sempurna jika dilaksanakan dengan teliti, penuh perhitungan, perencanaan yang matang. Tapi sebaliknya jika dikerjakan dengan asal-asalan maka hasilnya tentu mengecewakan. Begitu juga jihad, kalau orang berjihad itu dengan model ‘yang penting jihad/yang penting perang/yang penting ngebom/ yang penting…………’ ya hasilnya juga tentu tidaklah maksimal (kalau tidak mau di sebut amburadul). 2, Bersikap tawasuth (tidak melampui batas dan sia sia); dalam ayat ke 67 dari surat Al Furqon dijelaskan; “Dan barangsiapa yang apabila membelanjakan harta tidak berlebihan dan tidak pula kikir, dan adalah pembelanjaan itu ditengah-tengan antara yang demikian.” Dari ayat ini jelas Allah menyukai sesuatu yang berada di tengah-tengah. Dalam hadis lain riwayat Ahmad dijelaskan “Setiap amal memiliki puncaknya, dan setiap puncak pasti mengalami kefuturan. Maka barang siapa yang ketika futur kembali kepada sunnah Rasul maka dia akan beruntung.” Yang tepat adalah jika kita selalu menempatkan realita dan semangat pada tempat yang berimbang, karena ketika kita hanya berpatokan pada semangat tanpa pertimbangan realita maka kita tidak bisa bertawasuth dan berujung pada keloyoan bahkan putus asa karena semangat kita tidak bisa menembus realita, 3. Ikhlas dalam beramal. Jihad adalah perwujudan ibadah kita kepada Allah, sehingga segala kesusahan dan halangan adalah bagian dari ibadah juga. Ini adalah sebuah keikkhlasan yang harus selalu dijaga, karena sudah banyak orang yang gagal dalam menjaga keistiqomahan karena tidak mampu menjaga niat ikhlas karena Allah, 4. Selalu beramal sesuai dengan sunnah; ini adalah satu rangkaian dengan niat ikhlas sebagai syarat diterimanya amal oleh Allah ta’ala. Sehingga agar kita bisa berhasil dalam berjuang ataupun ketika jihad kita belum meraih kemenangan, kita tetap mendapat anugerah pahala dari Allah point ini harus dipegang kuat.

Telah banyak para mujahid yang kehilangan kemuliaan hanya karena tidak istiqomah. Sekarang siapa yang paling istiqomah dalam melaksanakan jihad, maka itu yang akan ditakuti musuh. Sebaliknya musuh akan menganggap sepele ketika jihad hanya menjadi gerimis sesaat di tengah siang pada musim kemarau. Hilang dengan sendirinya dan tanpa bekas. Selamat berjuang. Jangan lupa istiqomah. –Abu Uhud-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar